Dalam penyusunan RPS berbasis Outcome Based Education atau OBE, CPMK menjadi komponen penting yang menentukan arah pembelajaran. CPMK menggambarkan kemampuan yang diharapkan dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan suatu mata kuliah.
Namun, masih banyak CPMK yang dirumuskan menggunakan kata kerja umum seperti memahami, mengetahui, atau mengerti. Meskipun terlihat sederhana, penggunaan kata tersebut membuat kemampuan mahasiswa sulit diterjemahkan menjadi aktivitas pembelajaran dan instrumen evaluasi.
Akibatnya, dosen mengalami kesulitan menentukan apakah mahasiswa benar-benar telah mencapai kompetensi yang diharapkan.
Salah satu pendekatan yang dapat membantu menyusun CPMK lebih jelas adalah menggunakan Taksonomi Bloom. Pendekatan ini membantu dosen menentukan tingkat kemampuan berpikir mahasiswa, mulai dari kemampuan dasar hingga kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Studi Kasus CPMK yang Sulit Dinilai Karena Menggunakan Kata Kerja Umum
Seorang dosen menyusun CPMK untuk mata kuliah penulisan karya ilmiah dengan rumusan mahasiswa memahami cara menulis karya ilmiah.
Dari sisi bahasa, rumusan tersebut terlihat sesuai karena menggambarkan topik yang akan dipelajari mahasiswa. Namun, ketika diterapkan dalam proses evaluasi, muncul beberapa kendala.
Dosen kesulitan menentukan indikator keberhasilan karena kata memahami belum menjelaskan tindakan spesifik yang harus ditunjukkan mahasiswa. Pertanyaan seperti apakah mahasiswa cukup mampu menjelaskan konsep karya ilmiah atau harus mampu menghasilkan karya ilmiah menjadi sulit dijawab.
Ketidakjelasan tersebut membuat proses penilaian menjadi kurang objektif karena tidak terdapat gambaran kemampuan akhir yang harus dicapai mahasiswa.
Dalam pembelajaran berbasis OBE, CPMK tidak hanya menjelaskan materi yang dipelajari, tetapi harus menunjukkan kemampuan yang dapat diamati dan diukur.
Baca juga: Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dan Perbedaannya dengan Sub-CPMK
Mengapa Taksonomi Bloom Penting dalam Penyusunan CPMK
Taksonomi Bloom menjadi salah satu pendekatan yang dapat digunakan dosen untuk menentukan tingkat kemampuan kognitif yang ingin dicapai mahasiswa.
Dalam Taksonomi Bloom Revisi, kemampuan berpikir mahasiswa terdiri dari enam tingkatan. Tingkatan tersebut meliputi mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Setiap tingkat menunjukkan kompleksitas kemampuan yang berbeda. Kemampuan dasar berfokus pada mengenali informasi dan memahami konsep.
Sementara itu, kemampuan tingkat tinggi menuntut mahasiswa menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah, membuat keputusan, hingga menghasilkan gagasan baru.
Dalam penyusunan CPMK berbasis OBE, level kognitif membantu dosen menentukan kemampuan akhir yang perlu dimiliki mahasiswa. Dengan begitu, CPMK tidak hanya berisi materi, tetapi menggambarkan proses berpikir yang dikembangkan.
Kesalahan Umum dalam Merumuskan CPMK
Salah satu kesalahan dalam penyusunan CPMK adalah penggunaan kata kerja yang terlalu umum. Kata seperti memahami, mengetahui, atau mengerti sering digunakan karena mudah diterapkan.
Namun, kata tersebut belum menunjukkan perilaku atau kemampuan yang dapat diamati secara langsung.
Sebagai contoh, CPMK mahasiswa memahami konsep pemasaran belum menjelaskan kemampuan apa yang harus ditunjukkan mahasiswa setelah pembelajaran selesai. Dosen akan kesulitan menentukan bentuk evaluasi yang sesuai karena indikator keberhasilannya belum jelas.
Penggunaan kata kerja operasional seperti menganalisis, mengidentifikasi, mengevaluasi, atau merancang membuat CPMK lebih mudah diterjemahkan menjadi aktivitas pembelajaran dan penilaian.
Baca juga: Mengenal Definisi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Kriterianya dalam SN-Dikti
Cara Menyusun CPMK Menggunakan Taksonomi Bloom
1. Menentukan Kemampuan Akhir yang Ingin Dicapai Mahasiswa
Langkah awal menyusun CPMK adalah menentukan kemampuan yang ingin dicapai mahasiswa setelah mengikuti pembelajaran. Dosen perlu memahami apakah mahasiswa hanya perlu menguasai konsep dasar atau mampu menggunakan konsep tersebut untuk menyelesaikan permasalahan.
Jika tujuan pembelajaran berada pada tingkat dasar, CPMK dapat menggunakan kata kerja yang berkaitan dengan mengingat atau memahami. Namun, jika mahasiswa diharapkan mampu melakukan analisis, evaluasi, atau menghasilkan solusi, CPMK perlu menggunakan kata kerja yang menggambarkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Pemilihan level kognitif tersebut akan memengaruhi rancangan aktivitas pembelajaran dan bentuk evaluasi yang digunakan.
Baca juga: Mengenal Pilihan Metode Pembelajaran Dosen yang Sesuai dengan RPS OBE
2. Menggunakan Kata Kerja Operasional yang Tepat dalam CPMK
CPMK harus menggambarkan perilaku yang dapat diamati mahasiswa. Kata kerja operasional membantu dosen menjelaskan tindakan nyata yang harus dilakukan setelah proses pembelajaran.
Kata kerja seperti menjelaskan, mengidentifikasi, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan merancang memberikan gambaran kemampuan yang lebih spesifik dibandingkan memahami atau mengetahui.
Pemilihan kata kerja perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang ingin dicapai. Jika mahasiswa hanya diminta menjelaskan konsep, maka kata kerja pada level memahami dapat digunakan. Namun, jika mahasiswa ditargetkan menghasilkan karya atau solusi, kata kerja mencipta lebih sesuai.
Dengan demikian, CPMK dapat menjadi dasar yang kuat dalam menyusun aktivitas pembelajaran dan evaluasi.
Baca juga: Tahapan Menyusun RPS OBE dengan Backward Design Beserta Contohnya
Contoh Perbaikan CPMK agar Lebih Terukur
Rumusan CPMK yang belum terukur biasanya hanya menjelaskan pengetahuan yang perlu diketahui mahasiswa. Sebagai contoh, rumusan mahasiswa memahami cara menulis karya ilmiah belum menjelaskan kemampuan akhir yang harus ditunjukkan.
Dengan pendekatan Taksonomi Bloom, rumusan tersebut dapat dikembangkan menjadi mahasiswa mampu menyusun artikel ilmiah sesuai struktur penulisan akademik.
Rumusan tersebut memberikan gambaran kemampuan yang lebih jelas karena mahasiswa harus menghasilkan karya berdasarkan struktur tertentu. Dosen juga dapat menentukan aktivitas pembelajaran berupa latihan penyusunan artikel serta menggunakan rubrik penilaian yang sesuai.
Hasil pembelajaran menjadi lebih mudah dievaluasi karena terdapat indikator kemampuan yang dapat diamati.
Hubungan CPMK dengan Evaluasi Pembelajaran
Dalam pembelajaran berbasis OBE, CPMK tidak berdiri sendiri. Rumusan CPMK harus memiliki hubungan yang jelas dengan aktivitas pembelajaran dan bentuk evaluasi.
Jika CPMK menggunakan kata kerja menganalisis, maka mahasiswa perlu diberikan aktivitas yang memungkinkan mereka melakukan analisis. Bentuk evaluasi seperti studi kasus, analisis data, atau laporan kajian dapat digunakan untuk mengukur kemampuan tersebut.
Sementara itu, apabila CPMK menggunakan kata kerja mencipta, evaluasi perlu memberikan ruang bagi mahasiswa menghasilkan produk, rancangan, atau solusi.
Keselarasan antara CPMK, aktivitas pembelajaran, dan penilaian membuat proses evaluasi lebih objektif. Dosen dapat memastikan instrumen yang digunakan benar-benar mengukur kemampuan yang ditargetkan.
Baca juga artikel berikut: Memahami Format RPS OBE agar Penyusunan Lancar dan Minim Kesalahan
Studi Kasus Implementasi CPMK dalam RPS Berbasis OBE
Dalam sebuah mata kuliah penelitian, dosen awalnya menetapkan CPMK mahasiswa memahami metode penelitian. Rumusan tersebut masih terlalu luas karena belum menunjukkan kemampuan yang harus dimiliki mahasiswa.
Setelah menggunakan pendekatan Taksonomi Bloom, CPMK diperbaiki menjadi mahasiswa mampu merancang metode penelitian sesuai permasalahan dan tujuan penelitian.
Rumusan baru tersebut menunjukkan kemampuan yang lebih tinggi karena mahasiswa harus menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan rancangan penelitian.
Aktivitas pembelajaran dapat diarahkan melalui kajian literatur, diskusi metodologi, dan penyusunan rancangan penelitian. Evaluasi kemudian dapat dilakukan melalui penilaian proposal penelitian menggunakan rubrik yang telah ditentukan.
Baca juga: Cara Menyusun RPS OBE agar Pembelajaran Lebih Terarah, Terukur, dan Berdampak
Susun RPS OBE dengan CPMK yang Jelas dan Terukur
CPMK menjadi dasar penting dalam memastikan pembelajaran berbasis OBE berjalan sesuai tujuan. Rumusan CPMK yang tepat membantu dosen menyusun aktivitas pembelajaran dan evaluasi yang lebih terarah.
Melalui E-Course Strategi Teknis Menyusun RPS Berbasis OBE, dosen akan dipandu memahami cara menyusun CPMK, menentukan kata kerja operasional, serta menyelaraskan capaian pembelajaran dengan aktivitas dan asesmen.
Program ini membantu dosen merancang RPS yang tidak hanya lengkap secara administratif, tetapi juga mampu menunjukkan ketercapaian kompetensi mahasiswa.
Dengan CPMK yang terukur, proses pembelajaran dapat berjalan lebih sistematis dan mendukung pencapaian outcome mahasiswa.
Kesimpulan
Penyusunan CPMK berbasis Taksonomi Bloom membantu dosen membuat capaian pembelajaran yang lebih jelas, spesifik, dan dapat diukur. CPMK yang baik tidak hanya menjelaskan materi pembelajaran, tetapi juga menggambarkan kemampuan yang harus ditunjukkan mahasiswa.
Penggunaan kata kerja operasional yang tepat membuat proses pembelajaran dan evaluasi menjadi lebih terarah. Dalam konteks OBE, CPMK perlu disusun dengan memperhatikan keselarasan antara level kognitif, aktivitas pembelajaran, dan bentuk penilaian.
Dengan CPMK yang terukur, dosen dapat merancang RPS yang lebih sistematis serta memastikan pembelajaran mendukung pencapaian kompetensi mahasiswa.
Ingin menyusun RPS berbasis OBE dengan CPMK yang lebih jelas, terukur, dan sesuai capaian pembelajaran? Pahami strategi lengkapnya melalui E-Course Strategi Teknis Menyusun RPS Berbasis OBE untuk membantu dosen merancang pembelajaran berbasis capaian secara sistematis.













